SDIT Ar-Risalah Surakarta Menyelenggarakan Kajian Ekonomi Islam Seputar Riba

Ust. Imtihan Asy Syafi'i, MIF. memberikan materi Kajian Ekonomi Islam
Ust. Imtihan Asy Syafi’i, MIF. memberikan materi dalam acara Kajian Ekonomi Islam “Awas Bahaya Riba”.

SDIT Ar Risalah Surakarta mengadakan kajian ekonomi Islam bagi guru, karyawan, wali murid, dan umum pada hari Ahad, 30 April 2017. Kajian kali ini bertempat di aula SDIT Ar Risalah, Begalon, Laweyan, Surakarta. Kajian ini merupakan kerja sama dengan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Arafah, Ngruki, Sukoharjo.

Sejak pukul 07.30 tampak hadirin mulai berdatangan. Tentu itu tanda bahwa kajian ini mendapat sambutan yang hangat. Kajian dibuka pukul 08.30 oleh Ustadz Endro Sayekti, S.Pd. selaku MC, dilanjutkan tilawah Al Qur’an Surah Al Faatihah dan Faathir ayat 29-32 oleh Ustadz Burhan Haya. Menurut Ustadz Sudrajat, S.T. dalam sambutannya, kajian seperti ini pertama kali diadakan oleh SDIT Ar Risalah Surakarta. Latar belakangnya adalah fenomena wali murid memberikan hadiah kepada guru.

Bersama Ustadz Imtihan Asy Syafi’i, Magister Ilmu Fikih dari Ma’had Aly An Nur, Surakarta, kajian ini mengusung judul Awas Bahaya Riba. Pada awal kajian, beliau memaparkan lima urgensi harta halal dalam amal Islami.

Pertama, Allaah hanya menerima yang thayib. Kedua, Allaah hanya mengabulkan doa orang yang mengonsumsi hanya yang halal. Ketiga, Allaah akan mengganti harta haram yang kita tinggalkan dengan yang lebih baik. Keempat, sedikit berkah lebih baik daripada melimpah yang berbuntut adzab. Kelima, kemaksiatan yang kita lakukan berpengaruh pada keluarga dan masyarakat kita.

Adapun berkenaan hadiah dari wali murid untuk guru, seyogianya melalui Kepala Sekolah dan atau pengurus Yayasan. Menurut beliau, Kepala Sekolah dan atau pengurus Yayasan berhak memberikan hadiah tersebut kepada guru yang dimaksud, atau membagikannya kepada seluruh guru dan karyawan. Hal itu karena sesungguhnya cukup banyak pihak yang berperan terhadap pendidikan murid di sekolah, dan bukan karena peran satu atau dua guru saja. Kepala Sekolah dan atau pengurus Yayasan harus benar-benar menimbang, apakah guru yang dimaksud berprestasi sehingga layak mendapatkan penghargaan berupa hadiah selain gaji yang diterimanya setiap bulan.

Selanjutnya, beliau menjelaskan sebab haramnya harta, yaitu riba, maysir atau qimar (judi), kezhaliman dalam transaksi, gharar dalam transaksi, dan upah perbuatan yang haram. Menurut beliau, riba adalah tambahan beban kepada pihak yang berhutang atau tambahan takaran saat barter 6 komoditi (emas, peraj, gandum, jelai/jewawut, kurma, dan garam) antarbarang sejenis, atau tukar menukar emas dengan perak atau antarjenis yang berbeda dari 4 komoditi di atas selain emas dan perak secara tidak kontan. Beliau mengemukakan pendapat Imam Malik rahiimahullaah bahwa riba lebih buruk daripada khamr.

Pada intinya, kajian ini mengingatkan kita tentang pentingnya berhati-hati dalam mencari harta karena Allaah Subhaanahu wa Ta’aalaa hanya menerima harta yang halal dan thayib. Kajian berjalan lancar hingga pukul 11.15. Hal itu tampak dari antusiasme hadirin dalam mendengarkan materi dan mengajukan pertanyaan dari setiap kesempatan yang diberikan. (Dhaniar)

Wisuda Tahfidz Angkatan III SDIT Ar Risalah, Surakarta

img-20170424-wa0019
SDIT Ar Risalah, Surakarta mengadakan Wisuda Tahfidz Angkatan III pada hari Senin, 24 April 2017 di Ballroom Hotel Multazam, Pabelan, Kartasura. Wisuda ini merupakan kegiatan tahunan sekolah yang diselenggarakan sebagai puncak ujian tahfidz selama tiga tahap. Adapun peserta wisuda tahun ini adalah 131 murid dari 415 yang mengikuti seleksi. Peserta tersebut merupakan murid yang sudah mendapat materi tahfidz Juz 30, 29, dan 28 serta mampu menjaganya dengan baik.

Kegiatan ini dibuka dengan Qur’an Surah Al A’laa yang dilantunkan oleh Ishaq Husaini, murid kelas V Putra. Selanjutnya, rangkaian sambutan dari ketua panitia, perwakilan wali murid, kepala sekolah, dan ketua yayasan. “Ada hal istimewa pada wisuda tahun ini. Adna Usisa, murid kelas VI Putra, berhasil lulus ujian tahfidz 5 juz, yaitu juz 1, 2, 28, 29, dan 30. Hal itu karena Ananda mampu dan bersedia mengikuti percepatan materi tahfidz di sekolah,” ujar Ustadz Ahmad Yasir Al Amin, S.Pd.I. dalam sambutannya selaku ketua panitia.

“Kalian adalah anak-anak yang hebat!” demikian pujian Bapak Syamsuddin selaku perwakilan wali murid. “Alhamdulillaah, kegiatan ini senantiasa mendapat sambutan yang hangat dari wali murid. Kami akan terus berupaya memperbaiki metode pembelajaran tahfidz sehingga peserta wisuda dapat meningkat setiap tahunnya,” jelas Ustadz Saefudin Kamal, S.Si. selaku Kepala SDIT Ar Risalah, Surakarta. Lebih lanjut, beliau mengemukakan agar anak-anak tidak lupa bersyukur karena telah dimudahkan Allaah Subahaanahu wa Ta’aalaa. Beliau berharap anak-anak selalu bersemangat dalam menjaga dan menambah hafalan Al Qur’an.

Ustadz Arif Rifa’i, S.Si. dalam sambutannya mengemukakan, “Saat ini banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba mencetak penghafal Al Qur’an. Kegiatan ini salah satunya merupakan pembuktian kualitas peserta didik SDIT Ar Risalah, Surakarta dalam bidang itu.”

Acara yang cukup menegangkan adalah ujian terbuka bagi peserta wisuda yang disaksikan guru, wali murid, dan tamu undangan. Tentu itu untuk menunjukkan bahwa peserta wisuda benar-benar murid terpilih yang mampu menjaga hafalannya. Selanjutnya, penyerahan penghargaan berupa medali dan sertifikat dari ketua panitia kepada peserta.

Wisuda tahun ini semakin berkesan dengan tausiyah bertema “Hidup Mulia di Bawah Naungan Al Qur’an”. Tausiyah tersebut disampaikan selama 45 menit secara mantap dan komunikatif oleh Ustadz Hanifullah Syukri, dosen FIB UNS yang turut mewarnai dunia dakwah di Indonesia. “Semoga acara ini dinilai ibadah oleh Allaah Subahaanahu wa Ta’aalaa dan anak-anak penghafal Qur’an senantiasa dimuliakan dan dirahmati Allaah,” doanya pada awal tausiyah. Pada akhir tausiyah, beliau memotivasi anak-anak agar dapat menghafal 30 Juz Al Qur’an. (Dhaniar)