SDIT Ar-Risalah Surakarta Selenggarakan Ajang Kreasi Anak 2017 se-Solo Raya

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ar-Risalah, Surakarta menyelenggarakan Ajang Kreasi Anak 2017 se-Solo Raya pada hari Sabtu, 18 November 2017 di Jalan Sri Nalendra RT 01, RW 04, Begalon, Panularan, Laweyan. Berbagai lomba digelar dalam acara tersebut seperti hafalan surah pendek, hafalan doa harian, ketangkasan anak (estafet karet dan lempar bola), dan mewarnai. Sudrajat, S.T. selaku ketua panitia acara tersebut mengatakan bahwa acara ini bertujuan menumbuhkan budaya silaturahmi (silaturrahîm) dan meraih prestasi sejak dini di kalangan murid TK/RA.

Acara berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Acara dibuka dengan tilawah Alquran oleh Afghan Aska Yasin, murid kelas IV SDIT Ar-Risalah, Surakarta. Keceriaan ratusan murid TK/RA bersama guru dan orang tua yang ikut mengantar lomba terus mewarnai halaman dan gedung SDIT Ar-Risalah, Surakarta hingga acara ditutup. Sebelum acara ditutup, panitia membagi-bagikan puluhan doorprize menarik untuk murid-murid yang percaya diri. Acara pun ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah lomba.

Berikut hasil lomba dalam Ajang Kreasi Anak 2017 se-Solo Raya oleh SDIT Ar-Risalah, Surakarta.

Hafalan Surah Pendek

Juara I                             : Muhammad Aziz Syarifudin (TK Al-Irsyad)

Juara II                           : Almira Kautsar Asyifa (TK Al-Irsyad)

Juara III                          : Khodijah Hilya Aulia (RA Baiturrahman)

Juara Harapan I           : Ghoizan (TK Khoiru Ummah, Makamhaji)

Juara Harapan II          : Aynamira Quanta Nur (TKIT Waladun Sholihun, Weru)

Juara Harapan III        : Nasywa (TTQ Al-Busyro)

Hafalan Doa Harian

Juara I                            : Ruqoyyah Ibnatu Mush’ab (RA Baiturrahman)

Juara II                          : Aurelia Oktaviani (RA Amanah Ummah 1, Surakarta)

Juara III                        : Nayla (RA Laweyan 2 Nurrohmah, Grogol)

Juara Harapan I          : Tri Anita Nur Khasanah (RA Al-Amin 3)

Juara Harapan II         : Quinnova (TK Islam, Laweyan)

Juara Harapan III       : Akbar Azzam Firdaus (TK Al-Mukmin)

Ketangkasan (Estafet Karet)

Juara I                           : kelompok murid RA Amanah Ummah 1, Surakarta

Juara II                         : kelompok murid PAUD Insan Muda Mulia

Juara III                        : kelompok murid TKIT Waladun Sholihun, Weru

Juara Harapan I          : kelompok murid RA Amanah Ummah 1, Surakarta

Juara Harapan II         : kelompok murid RA Laweyan 2 Nurrohmah, Grogol

Juara Harapan III       : kelompok murid RA Al-Amin 3

Ketangkasan (Lempar Bola)

Juara I                          : kelompok murid TK An-Nahl

Juara II                        : kelompok murid TKIT Istiqomah

Juara III                       : kelompok murid RA Amanah Ummah 1, Surakarta

Juara Harapan I          : kelompok murid RA Amanah Ummah 1, Surakarta

Juara Harapan II        : kelompok murid TTQ Al-Busyro

Juara Harapan III      : kelompok murid RA Al-Amin 3

Mewarnai

Juara I                          : Afifah Salsabila (TK Aisyiah 56)

Juara II                        : Salsabila Putri (TK Aisyiah, Kenorejo)

Juara III                       : Alin Zahra (TK PKK, Palur)

Juara Harapan I         : Zianka Safira (TK Aisyiah 20, Pajang)

Juara Harapan II       : (TK Tamirul Islam, Surakarta)

Juara Harapan III     : Azam Abid Zubair (TKIT Waladun Sholihun, Weru)

***

Bersabarlah Membaca!

22279381_1589116967815229_7231229117068270718_n

Dhaniar Retno Wulandari, S.S.

(Guru SDIT Ar-Risalah, Surakarta)

‘’Buku adalah jendela ilmu. Pintu ilmu adalah membaca.’’ Itulah tulisan yang saya baca tadi pagi pada dinding sebuah sekolah dasar swasta Islam di Solo. Siapa yang pertama kali mengemukakannya? Entah.

Saat itu saya sedang mendampingi seorang murid untuk lomba baca puisi. Puisi (wajib) yang akan dibaca murid saya berjudul ‘’Krawang-Bekasi’’. Qadarullâh, saya mempunyai sebuah buku yang mengandung puisi tersebut. Tentu banyak yang tahu bahwa puisi itu terdapat dalam sebuah buku kumpulan sajak karya penyair Indonesia bernama Chairil Anwar. Oh!

Saya jadi ingat cerita indah tentang saya dan suami. Saat itu kami baru saja menikah. Kami pun berbenah. Ternyata, kami memiliki dua buku yang sama, yaitu buku karya Chairil Anwar dan William Shakespeare. Pada buku tertera bahwa suami saya membeli buku Chairil Anwar tersebut pada tanggal 12 Januari 2003 dan saya membeli pada tanggal 4 November 2003. Berarti, saya terlambat beberapa bulan dibanding suami saya. Ah!

Kembali pada tulisan tadi, “Buku adalah jendela ilmu. Pintu ilmu adalah membaca.” Saya mempunyai sebuah buku kecil dan tipis berjudul Indahnya Kesabaran karya Abdullah Gymnastiar. Pada halaman lima tertera bahwa buku tersebut jatuh di tangan saya pada tanggal 31 Mei 2006. Tapi, saya benar-benar tidak ingat: Apakah saya membelinya atau mendapatkannya secara cuma-cuma? Seingat saya, saat itu ada kajian dari Abdullah Gymnastiar di Manahan, Solo. Wah!

Pada halaman identitas tampak bahwa buku itu diterbitkan oleh Khas MQ pada bulan Oktober 2004 dan mengalami cetak ulang keempat pada bulan April 2006. Pada halaman pendahuluan, Abdullah Gymnastiar mendoakan pembaca agar digolongkan sebagai ahli sabar. Âmîn, yâ, Rabb. Abdullah Gymnastiar menuliskan, “Innallaha ma’ashabirin”. Saya pun mencari kalimat tersebut dalam Alquran. Saya menemukannya dalam Alquran surah Al-Anfâl ayat 46. Innallâha ma’ashshâbirîn, artinya sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar.

Abdullah Gymnastiar mengatakan bahwa sesungguhnya kesabaran membuat daya tahan seseorang menjadi luar biasa. Beliau mengutip terjemahan Alquran surah Âli ‘Imrân ayat 200. Saya pun membuka Syaamil Al-Qur’an Terjemah Tafsir Per Kata yang diterbitkan Sygma Publishing. Tata bahasa terjemahannya hampir sama. Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allâh agar kamu beruntung! Begitulah jika saya tulis.

Terjemahan tersebut mengingatkan saya pada peristiwa perang yang dialami Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Materi peristiwa perang tersebut merupakan bagian dari mata pelajaran Sirah kelas V. Tahun pelajaran ini saya menjadi salah satu pengampunya. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya karena telah dipercaya mengajar Sirah. Ya, Allâh, bimbinglah hamba!

Abdullah Gymnastiar mengemukakan pada halaman terakhir bukunya bahwa sabar adalah kegigihan kita untuk terus berada di jalan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ. Sungguh jika kita membaca buku tentang Sirah, Tarikh, atau Sejarah Kebudayaan Islam (SKI); kita akan terpesona karena Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam benar-benar teladan kesabaran. Mâsyâ Allâh!

Nah! Sebagai umat muslim, sudah sepantasnya kita meneladani Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini adalah meneladani kesabaran beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Kita harus terus berada di jalan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ.

Kembali pada tulisan tadi, “Buku adalah jendela ilmu. Pintu ilmu adalah membaca.” Maka, bersabarlah membaca sebagai upaya menuntut ilmu! Bukankah menuntut ilmu diwajibkan bagi umat muslim sejak lahir sampai ke liang lahat?

***

Surakarta, 21-22 Oktober 2017

SDIT Ar-Risalah Surakarta Menyelenggarakan Kajian Ekonomi Islam Seputar Riba

Ust. Imtihan Asy Syafi'i, MIF. memberikan materi Kajian Ekonomi Islam
Ust. Imtihan Asy Syafi’i, MIF. memberikan materi dalam acara Kajian Ekonomi Islam “Awas Bahaya Riba”.

SDIT Ar Risalah Surakarta mengadakan kajian ekonomi Islam bagi guru, karyawan, wali murid, dan umum pada hari Ahad, 30 April 2017. Kajian kali ini bertempat di aula SDIT Ar Risalah, Begalon, Laweyan, Surakarta. Kajian ini merupakan kerja sama dengan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Arafah, Ngruki, Sukoharjo.

Sejak pukul 07.30 tampak hadirin mulai berdatangan. Tentu itu tanda bahwa kajian ini mendapat sambutan yang hangat. Kajian dibuka pukul 08.30 oleh Ustadz Endro Sayekti, S.Pd. selaku MC, dilanjutkan tilawah Al Qur’an Surah Al Faatihah dan Faathir ayat 29-32 oleh Ustadz Burhan Haya. Menurut Ustadz Sudrajat, S.T. dalam sambutannya, kajian seperti ini pertama kali diadakan oleh SDIT Ar Risalah Surakarta. Latar belakangnya adalah fenomena wali murid memberikan hadiah kepada guru.

Bersama Ustadz Imtihan Asy Syafi’i, Magister Ilmu Fikih dari Ma’had Aly An Nur, Surakarta, kajian ini mengusung judul Awas Bahaya Riba. Pada awal kajian, beliau memaparkan lima urgensi harta halal dalam amal Islami.

Pertama, Allaah hanya menerima yang thayib. Kedua, Allaah hanya mengabulkan doa orang yang mengonsumsi hanya yang halal. Ketiga, Allaah akan mengganti harta haram yang kita tinggalkan dengan yang lebih baik. Keempat, sedikit berkah lebih baik daripada melimpah yang berbuntut adzab. Kelima, kemaksiatan yang kita lakukan berpengaruh pada keluarga dan masyarakat kita.

Adapun berkenaan hadiah dari wali murid untuk guru, seyogianya melalui Kepala Sekolah dan atau pengurus Yayasan. Menurut beliau, Kepala Sekolah dan atau pengurus Yayasan berhak memberikan hadiah tersebut kepada guru yang dimaksud, atau membagikannya kepada seluruh guru dan karyawan. Hal itu karena sesungguhnya cukup banyak pihak yang berperan terhadap pendidikan murid di sekolah, dan bukan karena peran satu atau dua guru saja. Kepala Sekolah dan atau pengurus Yayasan harus benar-benar menimbang, apakah guru yang dimaksud berprestasi sehingga layak mendapatkan penghargaan berupa hadiah selain gaji yang diterimanya setiap bulan.

Selanjutnya, beliau menjelaskan sebab haramnya harta, yaitu riba, maysir atau qimar (judi), kezhaliman dalam transaksi, gharar dalam transaksi, dan upah perbuatan yang haram. Menurut beliau, riba adalah tambahan beban kepada pihak yang berhutang atau tambahan takaran saat barter 6 komoditi (emas, peraj, gandum, jelai/jewawut, kurma, dan garam) antarbarang sejenis, atau tukar menukar emas dengan perak atau antarjenis yang berbeda dari 4 komoditi di atas selain emas dan perak secara tidak kontan. Beliau mengemukakan pendapat Imam Malik rahiimahullaah bahwa riba lebih buruk daripada khamr.

Pada intinya, kajian ini mengingatkan kita tentang pentingnya berhati-hati dalam mencari harta karena Allaah Subhaanahu wa Ta’aalaa hanya menerima harta yang halal dan thayib. Kajian berjalan lancar hingga pukul 11.15. Hal itu tampak dari antusiasme hadirin dalam mendengarkan materi dan mengajukan pertanyaan dari setiap kesempatan yang diberikan. (Dhaniar)

Wisuda Tahfidz Angkatan III SDIT Ar Risalah, Surakarta

img-20170424-wa0019
SDIT Ar Risalah, Surakarta mengadakan Wisuda Tahfidz Angkatan III pada hari Senin, 24 April 2017 di Ballroom Hotel Multazam, Pabelan, Kartasura. Wisuda ini merupakan kegiatan tahunan sekolah yang diselenggarakan sebagai puncak ujian tahfidz selama tiga tahap. Adapun peserta wisuda tahun ini adalah 131 murid dari 415 yang mengikuti seleksi. Peserta tersebut merupakan murid yang sudah mendapat materi tahfidz Juz 30, 29, dan 28 serta mampu menjaganya dengan baik.

Kegiatan ini dibuka dengan Qur’an Surah Al A’laa yang dilantunkan oleh Ishaq Husaini, murid kelas V Putra. Selanjutnya, rangkaian sambutan dari ketua panitia, perwakilan wali murid, kepala sekolah, dan ketua yayasan. “Ada hal istimewa pada wisuda tahun ini. Adna Usisa, murid kelas VI Putra, berhasil lulus ujian tahfidz 5 juz, yaitu juz 1, 2, 28, 29, dan 30. Hal itu karena Ananda mampu dan bersedia mengikuti percepatan materi tahfidz di sekolah,” ujar Ustadz Ahmad Yasir Al Amin, S.Pd.I. dalam sambutannya selaku ketua panitia.

“Kalian adalah anak-anak yang hebat!” demikian pujian Bapak Syamsuddin selaku perwakilan wali murid. “Alhamdulillaah, kegiatan ini senantiasa mendapat sambutan yang hangat dari wali murid. Kami akan terus berupaya memperbaiki metode pembelajaran tahfidz sehingga peserta wisuda dapat meningkat setiap tahunnya,” jelas Ustadz Saefudin Kamal, S.Si. selaku Kepala SDIT Ar Risalah, Surakarta. Lebih lanjut, beliau mengemukakan agar anak-anak tidak lupa bersyukur karena telah dimudahkan Allaah Subahaanahu wa Ta’aalaa. Beliau berharap anak-anak selalu bersemangat dalam menjaga dan menambah hafalan Al Qur’an.

Ustadz Arif Rifa’i, S.Si. dalam sambutannya mengemukakan, “Saat ini banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba mencetak penghafal Al Qur’an. Kegiatan ini salah satunya merupakan pembuktian kualitas peserta didik SDIT Ar Risalah, Surakarta dalam bidang itu.”

Acara yang cukup menegangkan adalah ujian terbuka bagi peserta wisuda yang disaksikan guru, wali murid, dan tamu undangan. Tentu itu untuk menunjukkan bahwa peserta wisuda benar-benar murid terpilih yang mampu menjaga hafalannya. Selanjutnya, penyerahan penghargaan berupa medali dan sertifikat dari ketua panitia kepada peserta.

Wisuda tahun ini semakin berkesan dengan tausiyah bertema “Hidup Mulia di Bawah Naungan Al Qur’an”. Tausiyah tersebut disampaikan selama 45 menit secara mantap dan komunikatif oleh Ustadz Hanifullah Syukri, dosen FIB UNS yang turut mewarnai dunia dakwah di Indonesia. “Semoga acara ini dinilai ibadah oleh Allaah Subahaanahu wa Ta’aalaa dan anak-anak penghafal Qur’an senantiasa dimuliakan dan dirahmati Allaah,” doanya pada awal tausiyah. Pada akhir tausiyah, beliau memotivasi anak-anak agar dapat menghafal 30 Juz Al Qur’an. (Dhaniar)