Inilah Mengapa Ayat “Maka Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kalian Dustakan?” Dalam Surat Ar-Rohman Berulang-ulang

Jika Anda mentadabburi Surat Al-Qomar, maka Anda dapati isinya menceritakan secara khusus untuk watak durhaka manusia. Bahkan hanya khusus menceritakan watak orang-orang musyrik saja. Maka urutan setelah Surat Al-Qomar adalah Surat Ar-Rohman yang isinya sebagai peringatan kepada bangsa jin dan manusia. Itulah mengapa di dalam surat ini selalu diulang-ulangnya ayat berikut:

{فبأي آلاء ربكما تكذبان}

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ayat tersebut ditujukan kepada jin dan manusia. Sehingga sangat jelas kaitannya antara surat ini dengan Surat Al-Qomar.

Nadzmud Durar Ibn Zubair Al-Gharnaty 8/293

Wahai Guru, Menulislah!

Apa yang terbayang pada kita saat mengetahui keterampilan berbahasa seseorang? Tentu kemampuan berpikir orang tersebut. Keterampilan berbahasa mencakup empat hal: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Meskipun demikian, keempat keterampilan tersebut pada dasarnya saling berkaitan. Adapun yang penting untuk selalu kita ingat, keterampilan berbahasa seseorang tidak diperoleh begitu saja.

Sembilan tahun lalu, saat masih menempuh studi pada Program Akta Mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta, saya pertama kali mengenal kalimat Man jadda wajada. Kalimat tersebut berarti Siapa saja yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Senada dengan kalimat tersebut, seseorang akan terampil dalam berbahasa jika ia tidak putus-putusnya berlatih.

Saat kecil kita belajar menyimak dan berbicara. Selanjutnya, kita belajar membaca dan menulis. Hal itu menunjukkan bahwa keterampilan kita dalam menggunakan bahasa mengalami perkembangan dengan teratur. Pada usia seperti saat ini, keterampilan berbahasa kita semakin berkembang seiring kesibukan kita dalam pendidikan, bermasyarakat, dan bekerja.

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang menarik untuk dibicarakan. Keterampilan menulis harus dikuasai peserta didik pada pendidikan dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi. Tentu harus lebih kita kuasai karena kita sudah melewati tiga jenjang pendidikan tersebut. Boleh dikatakan, keterampilan menulis sepatutnya dikuasai para akademisi.

Lewat menulis, kita dapat mengekspresikan gagasan, maksud, perasaan, dan sebagainya dalam bentuk tulisan. Meskipun demikian, keterampilan menulis membutuhkan daya pikir dan daya cipta yang dipengaruhi keluasan pengetahuan seseorang. Kita harus banyak menyimak, membaca, dan senantiasa praktik.

Ya, jika hanya mengandalkan banyak praktik menulis tanpa memperluas pengetahuan, tentu kita akan menjadi penulis yang kurang bijaksana. Kita juga harus memperluas pengetahuan melalui pengalaman menyimak dan membaca yang tiada terputus. Rasûlullâh ﷺ bersabda yang artinya “Bersemangatlah kalian pada apa yang bermanfaat bagi kalian, mintalah pertolongan Allâh dan jangan malas!” (H.R. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, tidak selayaknya kita malas menyimak dan membaca sebagai upaya menimba ilmu. Itulah bekal kita dalam menulis. Boleh dikatakan, bekal nikmat yang membuahkan ilmu yang lezat.

Jika kita berkunjung ke toko buku, Arafah, misalnya, kita akan menyadari bahwa menulis merupakan kebiasaan ulama. Kita akan menjumpai banyaknya buku yang ditulis para ulama: Imam Bukhari (196–256 H), Imam an-Nawawi (631–676 H), Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (691–751 H), Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (1347–1421 H), Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka (1362–1401 H), ‘Aidh al-Qarni (1379 H), dan sebagainya. Kita pun akan memahami bahwa menulis dapat dijadikan sebagai sarana dakwah yang mampu menyegarkan jiwa penulisnya maupun pembacanya.

Adapun guru, tidak sedikit yang hidupnya semakin berwarna dengan menulis. Sebagai contoh, Habiburrahman El Shirazy yang sangat dikenal dalam dunia sastra Islam dan  saat ini menjadi dosen di STIQ An Nur Yogyakarta, dahulu adalah guru di MAN 1 Yogyakarta. Kita pun bisa menemukan guru-guru yang artikelnya banyak menghiasi media cetak maupun digital. Kementerian Pendidikan Indonesia melalui Peraturan Nomor 35 Tahun 2010 juga menganjurkan guru untuk memiliki karya tulis ilmiah yang dipublikasikan kepada masyarakat.

Berkenaan itu, saya masih menyimpan sebuah buku yang saya miliki sejak duduk pada bangku SLTP. Berdasarkan nama-nama yang menghiasi buku tersebut, tampak bahwa buku itu turun-temurun dari saudara misan saya, kakak kandung saya, lantas saya. Kami menempuh studi pada SLTP yang berbeda. Hal yang membanggakan adalah buku itu ditulis oleh Elha Simbolon Parna, guru yang mengajar saya bahasa Indonesia di SLTP Negeri 19, Surakarta. Buku itu sangat bermanfaat bagi saya saat itu dan sampai saat ini.

Nah, apalagi yang kita tunggu, wahai guru? Lapangkanlah waktu! Mulailah menulis dan biasakanlah!


Ditulis oleh Dhaniar Retno Wulandari, S.S., guru SDIT Ar Risalah, Laweyan, Surakarta. Masih tercatat sebagai mahasiswa S-2 Pengajaran Bahasa Indonesia, UMS. Dua artikelnya sudah dipublikasikan di www.sekolahdasar.net dan puluhan puisinya dimuat dalam media cetak lokal. Lima puisinya dimuat dalam Celoteh Bangku Sekolah (Antologi Puisi) (Bebuku Publisher, 2017). Puisinya berjudul “Renungan Kerinduan” terpilih sebagai salah satu pemenang dalam Lomba Cipta Puisi yang diselenggarakan oleh IG @muslimahshalihat pada bulan Juni 2016. Juara III Lomba Menulis Surat Cinta untuk Arafah yang diselengggarakan oleh Arafah Islamic Event Organizer pada bulan Ramadhan 1437 H (2016). Juara III Lomba Mengajar Guru (SD–SMP) Berprestasi 2014 yang diselenggarakan oleh KPI, Yayasan Al Ummah, Surakarta. Pada tahun 2013 mendapat Piagam Penghargaan sebagai Peserta Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 2012 terpilih sebagai Guru Berprestasi SDIT Ar-Risalah, Surakarta. Pemenang I Sayembara Penulisan Proposal Penelitian Sastra untuk Mahasiswa Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2005. Juara III Lomba Menulis Puisi tingkat Mahasiswa dalam rangka Pekan Pena Islami yang diselenggarakan oleh SKI FKIP UNS tahun 2004. Saat menempuh studi S-1, aktif dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kalpadruma FSSR UNS dan Teater Embun SKI FSSR UNS.

 

Karunia Itu Bernama Anak Perempuan

Allah Taala berfirman:

{يهب لمن يشاء إناثا ويهب لمن يشاء الذكور}

“Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” [Asy-Syuro: 49]

Pada ayat tersebut, Allah menyebut anak sebagai pemberian (hadiah) dan mendahulukan anak perempuan daripada laki-laki. Maka seseorang yang dikaruniai anak perempuan merupakan karunia yang besar yang harus disyukuri karena Allah sendiri menyebutnya hadiah (hibah/هبة). Hal ini cukup menjadi bantahan terhadap orang-orang jahiliyah yang merasa kecewa karena istrinya melahirkan anak perempuan.

DR. Uwaidh Al-Athawy

Manusia: Tercipta Pandai Berbicara

Allah Taala berfirman:

{خلق الإنسان, علمه البيان}

“Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” [Ar-Rahman: 3-4]

Sebelumnya manusia hanya berupa air mani yang hina. Sementara hari ini, manusia berada pada puncak penjelasan tentang Islam tetapi justru sangat memusuhi Islam. Mereka membantah Rabb mereka dan mengingkari kuasa-Nya dalam membangkitkan manusia kelak di akhirat untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan. Maka pelanggaran terbesar manusia yang berasal dari air mani yang hina dengan memusuhi-Nya merupakan tanda yang menunjukkan bahwa Allah lah dzat yang berhak disembah dan peristiwa dibangkitkannya manusia dari kubur adalah benar.

Adhwa’ul Bayan 7/735

Rasa Takut Yang Dibalas dengan Dua Surga

Allah Ta’ala berfirman:

{ولمن خاف مقام ربه جنتان}

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” [Ar-Rahman: 46]

Berkata salah seorang salaf: “Dia adalah seorang yang bersedih atas maksiat yang dilakukan lantas mengingat Allah kemudian meninggalkan maksiat itu karena rasa takut kepada-Nya.”

Ad-Durrul Mantsur Li Jalaluddin As-Suyuty

Hukum Amal Kebaikan dengan Niat Yang Salah

Allah Taala berfirman:

{والذين اتخذوا مسجدا ضرارا وكفرا}

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin) dan untuk kekafiran.” [At-Taubah: 107]

Ayat ini menunjukkan bahwa sebuah amal kebaikan walaupun memiliki fadhilah yang besar akan menjadi sesuatu yang dilarang jika dilakukan berdasarkan niat yang salah sebagaimana kisah sebuah kaum yang membangun masjid dhirar yang bertujuan untuk kekufuran dan memecah belah orang-orang beriman pada zaman Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.

Tafsir As-Sa’di At-Taubah: 107