Bersabarlah Membaca!

22279381_1589116967815229_7231229117068270718_n

Dhaniar Retno Wulandari, S.S.

(Guru SDIT Ar-Risalah, Surakarta)

‘’Buku adalah jendela ilmu. Pintu ilmu adalah membaca.’’ Itulah tulisan yang saya baca tadi pagi pada dinding sebuah sekolah dasar swasta Islam di Solo. Siapa yang pertama kali mengemukakannya? Entah.

Saat itu saya sedang mendampingi seorang murid untuk lomba baca puisi. Puisi (wajib) yang akan dibaca murid saya berjudul ‘’Krawang-Bekasi’’. Qadarullâh, saya mempunyai sebuah buku yang mengandung puisi tersebut. Tentu banyak yang tahu bahwa puisi itu terdapat dalam sebuah buku kumpulan sajak karya penyair Indonesia bernama Chairil Anwar. Oh!

Saya jadi ingat cerita indah tentang saya dan suami. Saat itu kami baru saja menikah. Kami pun berbenah. Ternyata, kami memiliki dua buku yang sama, yaitu buku karya Chairil Anwar dan William Shakespeare. Pada buku tertera bahwa suami saya membeli buku Chairil Anwar tersebut pada tanggal 12 Januari 2003 dan saya membeli pada tanggal 4 November 2003. Berarti, saya terlambat beberapa bulan dibanding suami saya. Ah!

Kembali pada tulisan tadi, “Buku adalah jendela ilmu. Pintu ilmu adalah membaca.” Saya mempunyai sebuah buku kecil dan tipis berjudul Indahnya Kesabaran karya Abdullah Gymnastiar. Pada halaman lima tertera bahwa buku tersebut jatuh di tangan saya pada tanggal 31 Mei 2006. Tapi, saya benar-benar tidak ingat: Apakah saya membelinya atau mendapatkannya secara cuma-cuma? Seingat saya, saat itu ada kajian dari Abdullah Gymnastiar di Manahan, Solo. Wah!

Pada halaman identitas tampak bahwa buku itu diterbitkan oleh Khas MQ pada bulan Oktober 2004 dan mengalami cetak ulang keempat pada bulan April 2006. Pada halaman pendahuluan, Abdullah Gymnastiar mendoakan pembaca agar digolongkan sebagai ahli sabar. Âmîn, yâ, Rabb. Abdullah Gymnastiar menuliskan, “Innallaha ma’ashabirin”. Saya pun mencari kalimat tersebut dalam Alquran. Saya menemukannya dalam Alquran surah Al-Anfâl ayat 46. Innallâha ma’ashshâbirîn, artinya sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar.

Abdullah Gymnastiar mengatakan bahwa sesungguhnya kesabaran membuat daya tahan seseorang menjadi luar biasa. Beliau mengutip terjemahan Alquran surah Âli ‘Imrân ayat 200. Saya pun membuka Syaamil Al-Qur’an Terjemah Tafsir Per Kata yang diterbitkan Sygma Publishing. Tata bahasa terjemahannya hampir sama. Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allâh agar kamu beruntung! Begitulah jika saya tulis.

Terjemahan tersebut mengingatkan saya pada peristiwa perang yang dialami Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Materi peristiwa perang tersebut merupakan bagian dari mata pelajaran Sirah kelas V. Tahun pelajaran ini saya menjadi salah satu pengampunya. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya karena telah dipercaya mengajar Sirah. Ya, Allâh, bimbinglah hamba!

Abdullah Gymnastiar mengemukakan pada halaman terakhir bukunya bahwa sabar adalah kegigihan kita untuk terus berada di jalan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ. Sungguh jika kita membaca buku tentang Sirah, Tarikh, atau Sejarah Kebudayaan Islam (SKI); kita akan terpesona karena Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam benar-benar teladan kesabaran. Mâsyâ Allâh!

Nah! Sebagai umat muslim, sudah sepantasnya kita meneladani Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini adalah meneladani kesabaran beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Kita harus terus berada di jalan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ.

Kembali pada tulisan tadi, “Buku adalah jendela ilmu. Pintu ilmu adalah membaca.” Maka, bersabarlah membaca sebagai upaya menuntut ilmu! Bukankah menuntut ilmu diwajibkan bagi umat muslim sejak lahir sampai ke liang lahat?

***

Surakarta, 21-22 Oktober 2017

Untuk Diri Sendiri Dahulu, Baru Yang Lain

Allah Taala berfirman:

{ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان}

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami!” [Al-Hasyr: 10]

Ayat tersebut menunjukkan bahwa bila seseorang itu berdoa untuk dirinya dan orang lain, hendaknya mendahulukan untuk dirinya terlebih dahulu kemudian orang lain. Dan konteks seperti ini sangat banyak didapat di Alquran dan Assunnah.

Dr. Muhammad Al-Hamd

Imanlah Yang Menjadi Ukuran

Allah Taala berfirman:

{فأخرجنا من كان فيها من المؤمنين فما وجدنا فيها غير بيت من المسلمين}

“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri.” [Adz-Dzariyat: 35-36]

Allah Taala tidak mengatakan, “Maka Kami keluarkan Lut dan keluarganya.” dengan maksud bahwa yang menjadi ukuran persoalan adalah Iman dan Islam. Artinya Allah Taala menyelamatkan mereka dari adzab-Nya karena mereka beriman terhadap utusan mereka, bukan karena mereka berasal keluarga Nabi Lut.

Ibnu ‘Asyur

Menyusuri Kehidupan Rasulullâh ﷺ Secara Global dalam Tahdzîbus Sîrah an Nabawiyyah

“Muhammad adalah rasul Allah ….” Demikianlah kutipan alih bahasa dari Alquran (Al-Qur’an) Surah Al-Fath (48) ayat 29. Setiap orang yang mendengar nama beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam, akan tergerak hatinya untuk mencari keterangan perihal diri beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hal itu karena beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam diutus Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, sebagaimana firman Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ dalam Alquran Surah Al-Anbiyâ’ (21) ayat 107. Semoga Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Âmîn yâ rabbal ‘âlamîn.

Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan kehidupannya memang tidak lekang dari kemenarikan. Tidak lekang di bibir kita, tidak lekang dari hati kita. Dalam Alquran Surah Al-Ahzab (33) ayat 21, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman yang artinya “… Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah ….”

Alhamdulillâh, tidak sedikit buku yang mengulas kehidupan Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Tidak sedikit pula yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu buku tersebut adalah Tahdzîbus Sîrah an Nabawiyyah karya Imam Yahya bin Syaraf an Nawawi. Buku tersebut diterjemahkan oleh Akhmad Syaikhu menjadi Sirah Nabi Muhammad ﷺ (Ringkas, Lengkap, dan Mudah Disertai Dalil-Dalil yang Akurat) dan diterbitkan oleh Pustaka Ibnu ‘Umar di Bogor pada tahun 1434 H.

Buku tersebut mungkin berukuran paling kecil dari sekian buku tentang Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Setidaknya buku tersebut berukuran paling kecil dari sekian buku tentang Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang ada di perpustakaan pribadi saya. Hal itu tidak berarti saya mengatakan bahwa saya sudah menguasai pengetahuan tentang kehidupan Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Melalui buku berukuran 10,5 x 15 cm tersebut, kita akan menyusuri kehidupan Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam secara global. Buku tersebut seakan-akan menekankan pengetahuan tentang kehidupan Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang sekurang-kurangnya dipahami seorang muslim. Sirah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam buku tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu pendahuluan dan penutup. Bagian pendahuluan terdiri atas 21 bagian, yaitu dimulai bagian nasab Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan diakhiri bagian kekhususan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Selaras dengan terjemahan judulnya; setiap bagian dalam pendahuluan memaparkan intipati yang ringkas, lengkap, dan akurat. Selanjutnya, Imam an Nawawi menegaskan pada bagian penutup bahwa Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik manusia dari generasi terdahulu dan terkemudian.

Hal lain yang menarik dari buku tersebut adalah daftar pustaka sepanjang lima belas halaman yang mencantumkan 99 sumber bacaan. Sungguh pembacaan yang mengagumkan, ya! Pihak penerbit menyebut buku tersebut sebagai mahkota berharga dari perbendaharaan ilmu para ulama salafush shalih tentang Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang dipetik oleh Imam an Nawawi rahîmahullâh.

Nah, sudahkah kita memiliki dan membaca tuntas buku tersebut? Alhamdulillâh, saya sudah memilikinya pada awal 1437 H. Namun sepertinya, saya harus membaca dan membacanya lagi. Semoga pengetahuan kita tentang kehidupan Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam semakin memukau.

***

Ditulis oleh Dhaniar Retno Wulandari, S.S., pendidik di SDIT Ar-Risalah, Laweyan, Surakarta. Penulis Ajari Aku: Kumpulan Puisi (Oase Pustaka, Juni 2017).

Menumbuhkan Budaya Baca di Kalangan Anak

  “Tumbuhkanlah budaya baca di kalangan mereka. Pilihlah kitab-kitab tertentu dan kisah-kisah yang bermanfaat untuk mereka.” Begitulah nasihat Maram al ‘Athiyyah kepada para wanita dalam mendidik anak-anak mereka. Menurut beliau, hal itu salah satu medan jihad wanita di rumah.

    Tentu nasihat tersebut juga sesuai dengan pendidikan anak di sekolah. Guru dapat menunaikan nasihat tersebut kepada anak didik dengan berbagai cara. Salah satunya, wisata buku.

    Wisata buku merupakan salah satu usaha menumbuhkan minat baca pada anak-anak sehingga mereka menjadi gemar membaca. Dengan kata lain, wisata buku dimaksudkan agar anak-anak menjadikan budaya baca sebagai sebuah kebutuhan. Mereka membaca di rumah, masjid, sekolah, perpustakaan, ruang tunggu, dan sebagainya. Mereka membaca saat akan tidur, istirahat sekolah, selepas Zhuhur, bakda ‘Ashar, menunggu jemputan, dan sebagainya. Mereka terbiasa membaca buku secara tuntas, bukan sepintas lintas. Dengan demikian, anak-anak dapat memetik ilmu yang bermanfaat untuk tumbuh kembang mereka menjadi insan bermoral yang berkarya.

    Baru saja saya dan beberapa rekan guru kembali mengajak anak-anak wisata buku. Kali ini ke Toko Buku Arafah. Setiba di sana, anak-anak disambut dengan pembagian pin cantik dari “tuan rumah” bertuliskan Wisata Buku Arafah. Setelah itu, anak-anak mendapat secuil pengetahuan tentang cara menulis buku. Acara pun dilanjutkan dengan membeli buku di Arafah. Sebelumnya, anak-anak mendapat uang jajan buku Rp5.000,00 dari sekolah.

    Kami membebaskan anak-anak memilih buku yang mereka suka. Tentu yang sesuai dengan jumlah uang saku yang diterimanya dari rumah dan sekolah. Hal yang menarik hati adalah membantu mereka menghitung potongan harga buku. Dengan ramah-tamah, kasir di sana ikut membantu menghitung potongan harga buku yang ditanyakan anak-anak. Alhamdulillâh, rata-rata buku yang mereka beli mendapat diskon 30%.

    Wisata buku tersebut sebenarnya sudah kami rencanakan sejak awal Tahun Pelajaran 2016/2017. Karena pertimbangan tertentu, kami mengajak anak-anak ke Griya Solopos terlebih dahulu. Ajakan tersebut tentu juga mempunyai maksud menumbuhkan budaya baca di kalangan mereka. Tambahan lagi, wisata buku tersebut bukan yang pertama kali kami adakan.

    Kami mengawali wisata buku pada bulan September 2013. Saat itu ada Pesta Buku di Pendapi Gedhe Balaikota Solo dalam rangka hari Kunjung Perpustakaan. Selanjutnya, kami beberapa kali mengajak anak-anak wisata buku ke Kompleks Toko Buku Busri (mburi Sriwedari) dan Toko Buku Toga Mas. Kami juga pernah mengajak anak-anak ke Toko Buku Budhi Laksana dan Perpustakaan Nurul Huda UNS. Anak-anak sangat bersemangat. Namun saat di Toga Mas, mereka lebih terpikat membeli peralatan tulis dan penunjuk halaman buku. Sebelum itu semua, kami sering menganjurkan agar anak-anak berkunjung ke Pameran Buku Murah yang rutin diadakan di Assalam Hypermarket.

   Hal di atas menunjukkan bahwa kami memotivasi anak-anak supaya memiliki buku-buku bacaan di rumah. Kami tidak melarangnya. Kami tidak menganjurkan anak-anak membaca buku-buku pelajaran sekolah saja. Jika ada yang beropini bahwa guru tidak mendorong anak-anak memiliki buku-buku bacaan di rumah, tentu kurang tepat. Sungguhpun begitu, alangkah arifnya jika guru menyampaikan nasihat dari Dr. ‘Aidh al Qarni, M.A. kepada anak didiknya. Nasihat itu berbunyi, “… seorang penuntut ilmu harus bijak dan cermat dalam memilih buku-buku yang akan dibeli dan dibacanya. Sebaiknya, pilih buku-buku yang bermutu dan bermanfaat saja.”

 

Ditulis oleh Dhaniar Retno Wulandari, S.S., guru SDIT Ar-Risalah, Laweyan, Surakarta. Masih berjuang meraih gelar M.Pd. dari Magister Pengkajian Bahasa, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ketertarikannya pada dunia baca-tulis berawal saat duduk pada sekolah dasar karena fasilitas majalah Tunas Melati yang diterbitkan oleh SDnya (SD Muhammadiyah 1, Ketelan, Surakarta) setiap caturwulan.

Inilah Mengapa Ayat “Maka Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kalian Dustakan?” Dalam Surat Ar-Rohman Berulang-ulang

Jika Anda mentadabburi Surat Al-Qomar, maka Anda dapati isinya menceritakan secara khusus untuk watak durhaka manusia. Bahkan hanya khusus menceritakan watak orang-orang musyrik saja. Maka urutan setelah Surat Al-Qomar adalah Surat Ar-Rohman yang isinya sebagai peringatan kepada bangsa jin dan manusia. Itulah mengapa di dalam surat ini selalu diulang-ulangnya ayat berikut:

{فبأي آلاء ربكما تكذبان}

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ayat tersebut ditujukan kepada jin dan manusia. Sehingga sangat jelas kaitannya antara surat ini dengan Surat Al-Qomar.

Nadzmud Durar Ibn Zubair Al-Gharnaty 8/293