Loading...

Ketika Pengorbanan Berujung Kesepian: Sebuah Renungan tentang Pejuang, Rakyat, dan Cacat Kesadaran Kolektif

Sebuah Renungan tentang Pejuang, Rakyat, dan Cacat Kesadaran Kolektif

Sejarah memiliki kebiasaan aneh: ia sering kali mencatat keberanian, tetapi mengabaikan konteks getir di baliknya—bahwa banyak pejuang besar justru dikhianati oleh rakyat yang mereka coba bebaskan. Kisah Che Guevara di Bolivia adalah salah satu yang paling telanjang. Ia diburu bukan oleh intel asing, melainkan oleh laporan seorang gembala desa. Ketika ditanya mengapa ia menyerahkan seseorang yang memperjuangkan nasib rakyat kecil, jawabannya sederhana: “Suara tembakannya menakutkan hewan-hewan saya.”

Sebuah kalimat pendek yang memotong jantung idealisme.

Kisah ini tidak berdiri sendiri. Dalam sejarah Mesir, Mohamed Karim memimpin pertahanan Alexandria dari serangan Napoleon. Ketika tertangkap, Napoleon—ironisnya—memuji keberaniannya dan menawarkan pembebasan dengan syarat tebusan emas sebagai kompensasi. Karim yakin ia dapat mengumpulkan jumlah itu dari para pedagang kaya Alexandria yang berutang padanya lebih dari cukup. Namun ketika ia dibawa ke pasar dalam keadaan terbelenggu, bukan bantuan yang ia temukan, melainkan cibiran: para pedagang menuduhnya biang kerusuhan yang merusak stabilitas perdagangan.

Napoleon akhirnya berkata sinis, “Kau akan dihukum mati bukan karena melawan prajuritku, tetapi karena kau berjuang demi orang-orang pengecut.”

Dua kisah itu—dipisahkan oleh benua dan abad—mengandung sebuah pola gelap: betapa sering seorang pejuang mati bukan karena peluru musuh, melainkan karena kebutaan bangsanya sendiri.

Rakyat yang Belum Tercerahkan: Beban yang Harus Dipikul Pejuang

Rasyid Rida, pemikir Arab-Suriah, menangkap fenomena ini ketika ia berkata:

Memberontak atas nama orang-orang bodoh, sama dengan membakar diri untuk menerangi jalan bagi orang buta.

Kalimat itu bukan penghinaan, melainkan peringatan moral: perjuangan tanpa pendidikan rakyat hanya menciptakan lingkaran pengkhianatan. Sebab rakyat yang tidak memahami arti kebebasan akan menjualnya demi rasa aman sesaat.

Di Nusantara pun sejarah serupa berulang. Tuanku Imam Bonjol dicatat sebagai pahlawan besar dalam Perang Padri, tetapi siapa yang pertama kali menyerahkannya pada Belanda? Sebagian bangsanya sendiri yang merasa terusik oleh konflik dan ingin “kembali hidup tenang”. Begitu pula Pangeran Diponegoro, yang perlawanan panjangnya terpecah justru oleh elite lokal yang lebih memilih kompromi. Cut Nyak Dhien diburu bukan hanya oleh pasukan kolonial, tetapi dibocorkan oleh rakyat Aceh yang sudah lelah berperang dan kelaparan.

Di Afrika Selatan, Steve Biko—ikon gerakan Black Consciousness—meninggal dalam tahanan apartheid. Setelah kematiannya, ada kelompok kulit hitam moderat yang berkata bahwa Biko “terlalu radikal” dan memperparah kondisi komunitas mereka. Sementara Patrice Lumumba, pahlawan kemerdekaan Kongo, bukan hanya dihancurkan oleh CIA dan Belgia, tetapi juga oleh rival politik dalam negeri yang merasa kepentingan mereka terancam oleh idealismenya.

Keberanian Tak Menjamin Dukungan

Satu ironi yang selalu berulang adalah ini: Keberanian tidak otomatis memanggil loyalitas. Rakyat, seperti semua manusia, bergerak oleh ketakutan, kepentingan, dan persepsi jangka pendek. Dalam kondisi sosial tertentu, mereka lebih memilih stabilitas semu daripada harga diri jangka panjang.

Fenomena ini bukan berarti rakyat selalu salah. Mereka adalah hasil dari sejarah: penindasan yang panjang, kemiskinan struktural, dan absennya pendidikan kritis membuat mereka hanya melihat dunia dari sudut paling dekat—perut, pekerjaan, keamanan, ketenangan sesaat.

Namun, bagi seorang pejuang, fakta itu adalah batu ujian paling sunyi: bahwa ia mungkin harus memperjuangkan orang-orang yang belum siap memperjuangkannya kembali.

Tanggung Jawab Ganda Seorang Pejuang

Di sinilah poin moral tertinggi dari kisah-kisah ini: Seorang pejuang besar bukan hanya melawan penindas, tetapi juga harus membebaskan rakyat dari ketidaktahuan, ketakutan, dan keterbatasan kesadaran.

Mengubah sistem lebih mudah daripada mengubah mentalitas. Merebut kemerdekaan lebih mudah daripada membuat rakyat memahami makna kemerdekaan itu sendiri.

Para revolusioner sering kali mati sebelum masanya karena mereka bergerak lebih cepat daripada rakyat yang mereka coba bawa melangkah. Ketika visi melaju terlalu jauh, rakyat tertinggal, dan dalam ketertinggalan itulah pengkhianatan lahir.

Penutup: Pengorbanan Tanpa Pencerahan adalah Api yang Padam Tanpa Cahaya

Kisah Che, Mohamed Karim, Imam Bonjol, Diponegoro, Biko, Lumumba, dan banyak lainnya menunjukkan paradoks tragis peradaban manusia: bahwa kadang-kadang keberanian terbesar justru ditumbangkan oleh ketidaksiapan masyarakatnya sendiri.

Karena itu, tugas seorang pejuang bukan hanya mengorbankan diri, tetapi membangun kesadaran. Bukan hanya menggembleng pasukan, tetapi menggembleng pikiran. Bukan hanya melawan penjajah, tetapi juga melawan kebutaan moral bangsanya.

Sebab tanpa pencerahan kolektif, sejarah akan terus mengulang bab paling memilukan: ketika pahlawan membakar dirinya untuk menerangi jalan yang tidak pernah benar-benar ingin dilalui oleh rakyatnya.


4 min membaca
Bagikan risalah ini:
Top